lililil.info Berita Unik

Berita Utama

Mengulas Sejarah Kesuksesan Toko Buku Gramedia

Nama Gramedia tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Sebuah PT yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan ini dikukuh...

Peristiwa

Showbiz

Foto

Video

Rabu, 12 Februari 2020

Mengulas Sejarah Kesuksesan Toko Buku Gramedia



Nama Gramedia tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Sebuah PT yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan ini dikukuhkan dengan nama Gramedia pada 2 Februari 1970. Toko buku Gramedia adalah salah satu anak perusahaan dari Kompas Gramedia.


Kompas Gramedia merupakan salah satu perusahaan penyedia jaringan toko buku yang berada di Indonesia dan Malaysia. Pada masa debutnya, Gramedia hanyalah sebuah toko buku kecil yang menempati ruangan berukuran 25 meter persegi di daerah Jakarta Barat.


Nama Gramedia sendiri berasal dari kata gramma (Latin) atau graphein (Yunani) yang bermakna huruf. Kemudian, istilah tersebut digabung dengan kata media hingga membentuk kata Gramedia.
Gramedia didirikan oleh dua orang sahabat kutu buku yang banyak berkontribusi dalam bidang jurnalistik dengan visi dan misi yang sama yakni mengembangkan pendidikan yang ada di Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dua sosok hebat tersebut adalah Petrus Kanisius Ojong dan Jacob Oetama.


Pada awal masa pendiriannya, toko buku ini berada dibawah tanggung jawab P.K Ojong. Meski hanya berawal dari sebuah toko kecil, Gramedia menjadi semakin berkembang berkat keseriusan dari kedua pendirinya.


Hingga pada tahun 1980, salah satu pendiri yakni Petrus Kanisius Ojong meninggal dunia. Sepeninggal sang sahabat, Jacob Oetama merasa kesulitan mengatur dan menangani Gramedia sendirian. Hal ini dikarenakan beliau tidak terlalu tahu mengenai bisnis dan manajemen yang digunakan dalam pengelolaan Gramedia.


Namun dengan tekad dan niat yang kuat, Jacob Oetama berupaya keras untuk belajar menekuni dunia bisnis agar toko buku Gramedia tetap bisa berjalan dengan semestinya. Beliau melakukan segala hal yang sering dilakukan oleh sang sahabat semasa hidupnya,menyelami dunia bisnis, belajar mengelola keuangan dan memanajemen segala hal yang bersangkutan dengan Gramedia.


Alhasil, semua kerja keras yang beliau lakukan pun berbuah manis. Tercatat pada tahun 2002, Gramedia telah memiliki 50 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan Gramedia tidak hanya menyediakan berbagai macam buku saja, ada produk-produk lain seperti alat tulis, alat olahraga, alat music, perlengkapan kantor, dan masih banyak lagi.


Pada awal pendiriannya, kebanyakan buku yang dijual oleh Gramedia adalah buku-buku bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu, buku-buku baru mulai hadir. Hingga pada tahun 2004, Gramedia tercatat telah bekerja sama dengan lebih dari 200 penerbit buku baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


Penerbit-penerbit tersebut berasal dari berbagai negara seperti Brasil, Denmark, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Belgia, Kanada, Hongkong, Swiss, India, Malaysia, Inggris, Kanada, Italia, dan Jepang. Buku-buku terbitan Gramedia banyak diminati oleh para penerbit baik domestic maupun manca negara.


Hingga sekarang, tercatat ada lebih dari 50 judul buku asli yang hak ciptanya telah dibeli oleh penerbit dari luar negeri. Pada tahun 1977-1988, Gramedia berhasil meraih penghargaan dari Yayasan Buku Utama dengan lebih dari 15 judul buku. Buku-buku fiksi dari Gramedia juga berhasil menyabet 16 kali penghargaan, sedangkan buku non fiksi berhasil membawa pulang 7 penghargaan.
Kini, Gramedia terus berupaya untuk mengembangkan sayapnya. Saat ini, Gramedia dikenal sebagai salah satu toko buku terbesar di Indonesia yang tetap menjaga visi dan misinya. Gramedia telah berhasil memiliki cabang di seluruh wilayah di Indonesia. 


Kedatangan Gramedia ditengah-tengah pendidikan Indonesia tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan dari bisnis saja, namun juga sebagai perantara jendela dunia melalui buku-buku yang dihasilkannya.


Demikianlah secuplik kisah sukses dan menginspirasi dari Toko Buku Gramedia. Semoga dengan membaca kisah diatas, anda bisa mendapatkan nasehat dan pembelajaran dari perjuangan dua sosok hebat yang memiliki kontribusi penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

Intermezzo

Travel

Teknologi