Sejak Ip Man 4 di Tayangkan Tahun Lalu, Akankah Ada Ip Man 5 ? - lililil.info Berita Unik

Minggu, 09 Agustus 2020

Sejak Ip Man 4 di Tayangkan Tahun Lalu, Akankah Ada Ip Man 5 ?



IP Man 5 - Sejak film perdananya ditayangkan pada pada tahun 2008 lalu hingga Ip Man 4: The Finale selaku penutup, Ip Man (Donnie Yen) bak manusia sempurna. Tidak terkalahkan dalam pertarungan, berhati mulia, sosoknya pun mendekati deus ex machina yang kehadirannya bagai jaminan terselesaikannya masalah apa saja. Tapi dalam film seri garapan Wilson Yip ini, elemen yang biasanya dianggap kekurangan tersebut malah disulap jadi keunggulan. Ip Man adalah jagoan yang mampu membuat penonton berdiri di belakangnya, sebab perjuangannya selalu didasari kepedulian, baik kepada orang-orang terdekat yang ia cintai maupun para korban ketidakadilan.

 

Semenjak kematian sang istri yang selalu jadi alasan perjuangannya, Ip Man didiagnosis menderita kanker tenggorokan. Di tengah keterbatasan waktunya, Ip masih harus mengurusi putera keduanya, Ip Ching (Ye He), yang memberontak, dikeluarkan dari sekolah, dan melawan segala perintah sang ayah. Dia menolak bersekolah, ingin total menekuni martial arts. Ip Man menentang anaknya, lalu dia mencarikan sekolah baru untuk anaknya di San Francisco, Amerika Serikat, dengan dibantu Bruce Lee (Danny Chan), muridnya yang mempopulerkan Wing Chun di sana.



Film IP Man 4 naskahnya ditulis oleh empat nama, termasuk Edmond Wong dan Tai-lee Chan yang terlibat sejak film perdana, Ip Man 4: The Finale sejatinya memiliki alur sarat simplifikasi, bahkan cenderung konyol yang mengingatkan akan film-film kelas b. Agar puteranya bisa bersekolah di San Francisco, Ip mesti mendapat surat rekomendasi dari ketua Chinese Consolidated Benevolent Association (CCBA), Wan Zong Hua (Wu Yue). Wan bersedia, dengan syarat Ip bisa menutup sekolah Wing Chun yang di dirikan Bruce Lee. Menurut Wan dan anggota CCBA lain, tidak seharusnya Bruce mengajarkan seni bela diri Cina kepada orang Amerika yang telah berlaku rasis terhadap mereka.

 

Konflik berikutnya adalah konflik yang melibatkan masalah puteri Wan, Yonah (Vanda Margraf), di sekolah, yang memicu perseteruan CCBA dengan pihak imigrasi, sampai usaha Hartman Wu (Vanness Wu), anggota marinir sekaligus murid Bruce Lee, menerapkan Wing Chun sebagai kurikulum pelatihan yang memancing perselisihan dengan Barton Geddes (Scott Adkins), atasannya yang rasis.

 

Seluruh elemen di atas nantinya saling bersinggungan secara begitu menggelikan. Fokus naskahnya cuma mempertemukan satu petarung dengan petarung lain, melupakan benih masalah rumit seputar rasisme yang ditabur di awal. Masyarakat Amerika memang merendahkan masyarakat Cina, namun bukankah sakit hati Wan dan kawan-kawan berujung melahirkan sikap serupa, termasuk saat melarang Bruce mengajarkan Wing Chun? Tidak ada resolusi pasti atas hal ini, meski dalam film Ip Man 4: The Finale jelas menggambarkan masyarakat Cina lebih terhormat ketimbang Amerika.

 

Di satu titik, tangan kiri Ip mengalami cedera. Mengetahui itu, di tengah pertarungan keduanya, Wan memilih hanya memakai satu tangan. Sebaliknya, Barton malah sengaja mengeksploitasi kelemahan tersebut. Apalagi jajaran aktor Baratnya memberikan performa menyedihkan layaknya pemain-pemain amatir dalam film-film pelajar. Hanya Scott Adkins yang sanggup meninggalkan kesan. Bukan lewat aktingnya tentu saja, melainkan fisik prima serta kemampuan bela diri luar biasa, yang menjadikan Barton salah satu musuh paling berbahaya di franchise ini, yang bisa membuat si master Wing Chun berdarah-darah.

 

Lain cerita kalau membicarakan adegan laga. Wilson Yip sudah khatam urusan mengkreasi baku hantam over-the-top beroktan tinggi yang mampu menangkap keseluruhan detail koreografi. Bahkan aksi saling dorong meja kaca bundar saja menciptakan pemandangan menegangkan. Saya dibuat menahan napas menyaksikannya, apalagi ketika musik bombastis gubahan Kenji Kawai yang telah menduduki posisi composer sejak film pertama, memperkuat intensitas masing-masing adegan, ditambah lagi efek suara pukulan dan tendangan yang membuat dampak dari tiap serangan terasa nyata.

 

Ip Man 4: The Finale merupakan perpisahan yang layak terhadap peran paling ikonik Donnie Yen, yang berbekal kharisma luar biasa, dapat memancing gemuruh seisi studio hanya dengan menampakkan diri di tengah medan pertempuran. Yen tidak pernah kehilangan wibawa, sekalipun saat menerima pukulan. Satu kelebihan Donnie Yen yang jarang dimiliki aktor laga lain adalah aura hangat dan kelembutan yang menjadikan sosok Ip Man bukan hanya soal otot, tapi juga hati.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda